Harga Obat Komunitas Pertanian Mahal, DPRD NTB Dorong Pemerintah Segera Stabilkan

Keterangan Foto: Akhdiansyah, S. HI. Anggota Komisi II DPRD NTB. 

Mataram, merdekantb.comAnggota komisi II DRPD provinsi NTB bidang pertanian, (Akhdiansyah, S. HI.) menyotori adanya lonjakan kenaikan harga obat-obatan komunitas pertanian. Kenaikan harga obat-obatan komunitas petani ini sangat diperlukan oleh para petani di daerah pemilih Dapil nya. Yakni di kabupaten Dompu, kabupaten Bima dan Kota Bima.

Keluhan kenaikan harga obat-obatan komunitas pertanian banyak disampaikan kepada petani di Dapil kabupaten Dompu dan kabupaten Bima” Kata anggota DPRD provinsi NTB dapil VI Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompuini saat diwawancara media ini, Kamis (04/03).

Iya mengatakan bahwa ada keluhan kenaikan harga obat-obatan komunitas pertanian itu disampaikan langsung oleh para petani baru-baru ini pada dirinya, ujarnya.

Oleh Sebab itu, Akhdiansyah Anggota Komisi II DPRD Provinsi NTB dari Fraksi PKB ini mendorong pemerintah daerah terutama dinas pertanian agar segera turun tangan mengambil langkah untuk menstabilkan harga obat-obatan pertanian tersebut. Harus segera diambil langkah untuk stabilkan harga obat-obatan petani di Bima dan Dompu, desaknya.

Akhdiansyah juga mengatakan, misalnya obat pertanian jenis gramoson yang dipergunakan untuk mematikan hama gulma pengganggu.

Di pertanian melonjak harga semula Rp.49.000 naik Rp. 200.000 dan jenis obat-obatan pertanian, tuturnya.
 
Begitu juga ada kenaikan harga benih di sejumlah komunitas pertanian misalnya harga benih jagung jenis advanta adv dari hanya semula Rp. 1,8 juta per kotak naik melonjak jadi Rp. 2,4 juta, katanya.

“Selain kenaikan harga obat-obatan, juga ada lonjakan kenaikan harga benih di sejumlah komunitas pertanian di Bima dan Dompu, ucap ketua baperda DPRD provinsi NTB, bebernya.

Dengan kondisi kenaikan harga obat-obatan dan benih di sejumlah kementerian pertanian membuat para petani di dapil menjerit, cetusnya.

Akibatnya itu membuat biaya produksi yang harus mengeluarkan oleh para petani membengkak titik sehingga kondisi itu, kata dia, sangat merugikan petani di dapil tersebut. Dan dampaknya pun kesejahteraan di tingkat petani diharapkan bisa tercapai jadi tidak terwujud.” Karena dari sejak awal petani kita dirugikan, dengan ada kenaikan harga benih dan obat-obatan komunitas pertanian”, imbuhnya.

Dengan pemerintah turun tangan dan langkah cepat dalam menstabilkan harga obat-obatan sejumlah komunitas pertanian. Sehingga petani bisa merasakan kehadiran pemerintah dalam membantu dan mengatasi persoalan dihadapi petani. Sehingga tidak ada kesan, lanjut Dia, petani dibiarkan berjuang sendiri dalam mengatasi persoalan dihadapi. Jangan biarkan petani kita berjuang sendiri titik kalau Pemda belum mendengarkan saya kasih informasinya. Tapi kalau sudah mendengar silakan Pemda ambil langkah cepat”, Jelasnya.

Dengan kondisi sulit dihadapi petani, akibat baik biaya produksi yang dikeluarkan pada petani titik itu membuat agak sulit untuk mendorong adanya peningkatan kesejahteraan taraf hidup petani.

Sementara sebagian besar masyarakat di berprofesi sebagai petani titik sehingga upaya pemerintah untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan akan kian sulit. Bahkan justru, dengan kondisi agar berpotensi menambah kemiskinan di daerah. ” Ekspektasi pertanian diharapkan bisa memberikan kesejahteraan, ternyata dengan kondisi ada masih jauh yang diharapkan.

Pewarta: Adi
Editor: Fesal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *