Harga Gas Elpiji 3 Kg di Bima 35 Ribu, GMNI Sandera Mobil Pengangkut Gas Elpiji

Keterangan Foto: GMNI Sandera Mobil Pengangkut Gas Elpiji. 

Bima, merdekantb.com–Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Bima menggelar aksi unjuk rasa terkait kenaikan harga gas elpiji 3 kg. Mereka menuding, terkait gas elpiji 3 kg ada dugaan penyelewengan distribusi barang subsidi tersebut, bahkan terkuak praktik penjualan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sehingga mencekik masyarakat.
Padahal, pemerintah sudah menetapkan HET gas elpiji 3 kg sebesar Rp. 16. 500 di tingkat Agen dan sebesar Rp. 20.000 di tingkat pangkalan. Namun, realita yang terjadi saat ini, masyarakat kewalahan untuk mendapatkan gas elpiji 3 kg karena ulah oknum pengecer yang mencari keuntungan sesaat.
“Harga gas elpiji 3 kg terlampau jauh dari HET. Yakni sebesar Rp. 25.000 bahkan sebesar Rp. 35.000 untuk 1 tabung gas elpiji 3 kg. Harga tersebut di tingkat pengecer, sehingga membuat gaduh di tengah masyarakat,” ujar Andi Supriyanto saat berorasi.

Sambungnya, sesuai aturan presiden pasal 13 ayat 2 nomor 104 Tahun 2007 tentang penyedian, perindustrian
dan penetapan harga gas elpiji 3 kg. Bahwasanya badan usaha dan masyarakat dilarang melakukan
penimbunan dan atau penyimpanan serta pengunaan LPG tabung 3 kg untuk rumah tangga dan usaha mikro.
“Badan usaha dan masyarakat yang
melakukan pelanggaran atas ketentuan tersebut dikenakan sangsi sesuai dengan ketentuan peratuan perundang-undangan lalu diperkuat dengan peraturan UU Nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas
bumi,” terangnya.

Massa aksi lainnya, Jihan mengungkapkan, Pemerintah Kecamatan Bolo harus menindak tegas pelaku kejahatan terkait keberadaan gas elpiji 3 kg ini. Hal tersebut perlu dilakukan supaya masyarakat tidak lagi mengeluhkan soal gas elpiji 3 kg.
“Kita minta Camat Bolo hadirkan seluruh agen, pangkalan atau pengecer gas elpiji 3 kg. Yakni membahas polemik gas elpiji 3 kg,” ucap Jihan.

Mewakili massa aksi, Ia menuntut tangkap dan adili oknum yang menjual gae elpiji 3 kg subsidi di atas HET. Tak hanya itu, mendesak Camat Bolo segera mengevaluasi oknum Pengecer/pangkalan gas elpiji 3 kg yang menjual di atas HET.
“Pokoknya harga gas elpiji 3 kg harus stabil. Jika tidak mampu, kami minta Camat Bolo dicopot dari jabatannya,” pungkasnya.

Pantauan di lapangan, sebelum seruduk Kantor Kecamatan Bolo, massa aksi menggelar unjuk rasa di pertigaan pasar sila, sekitar pukul 09.00 Wita. Saat itu, massa aksi sempat sandera mobil truk yang memuat gas elpiji 3 kg. Kemudian mengarahkan mobil truk tersebut ke Kantor Kecamatan Bolo, sekaligus melanjutkan aksi demo. Dan pada pukul 10.43 Wita aksi demo berakhir dan dilanjutkan audensi di ruangan Camat Bolo. Sementara aksi unjuk rasa tersebut dikawal ketat oleh anggota Polsek Bolo dan Personil Polres Bima.

Penulis: Adi
Editor: Fesal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *